Kandidiasis Vagina

Disusun oleh :
Kelompok 3
1. Desi Erita Rianto (06)
2. Dewi Anggraeni (07)
3. Feny Faiza Rahayu (12)
4. Ika Tantia W (16)
5. Intan Rachmawati F (17)
6. Lilik Eka Puspitasari (21)
7. Sinta Ayu Artika (28)
8. Triska Yunita (33)
SMK
KESEHATAN NUR MEDIKA SURABAYA
TAHUN
AJARAN 2014-2015
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat tuhan yang maha kuasa atas segala limpahan rahmat, inayah,
taufik dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan Makalah
tentang Candidiasis Vagina ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat
sederhana, Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan,
petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam administrasi pendidikan dalam
profesi keguruan. Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan
dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun
isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik . Makalah ini kami akui
masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh
karena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan
yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah
ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah
ini memiliki kelebihan dan kekurangan. kami membutuhkan kritik dan saran dari
pembaca yang membangun. Terima kasih.
Surabaya, April 2015
Penulis
DAFTAR
ISI
Cover..................................................................................................................................................i
Kata
Pengantar................................................................................................................................ii
Daftar Isi.........................................................................................................................................iii
BAB I : PENDAHULUAN..............................................................................................................1
1.1 Latar Belakang................................................................................................................1
1.2 Rumusan
Masalah...........................................................................................................1
1.3 Tujuan.............................................................................................................................2
BAB II : PEMBAHASAN..............................................................................................................3
2.1 Faktor
Predisposisi..........................................................................................................3
2.2 Patogenesis.....................................................................................................................4
2.3 Gejala Klinis...................................................................................................................5
2.4 Diagnosis........................................................................................................................6
2.5
Penanganan.....................................................................................................................6
BAB III :
PENUTUP......................................................................................................................9
3.1 Kesimpulan.....................................................................................................................9
3.2 Saran...............................................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................10
LAMPIRAN...................................................................................................................................11
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
LATAR BELAKANG
Kandidiasis vaginitis merupakan satu dari
penyakit jamur yang terbanyak setelah vaginitis bakterial. Antara 20-25% dari
kasus vaginitis disebabkan oleh infeksi kandida (1,2,3). Diperkirakan 75% dari
wanita dewasa didunia pernah menderita kandidiasis vaginitis sekali selama
hidup dan 40-50% akan mengalami episode kedua.
Wanita dengan kandidiasis vaginitis sering
menghindar aktivitas seksual karena sakit, tidak nyaman selama berhubungan dan
bisa menularkan penyakit pada pasangannya (. Keadaan ini dapat mengganggu
fungsi seksual dan gangguan perkawinan serta menurunkan kualitas hidup
penderita .
Pengaruh psikososial penyakit bervariasi,
sebagian sampai tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial, olah raga atau
aktivitas yang lain, dan menyebabkan susah berkonsentrasi dalam pekerjaan. Oleh
karena itu penanganan penyakit ini perlu dilakukan dengan baik
Penyebab Kandida albikan penyebab
terbanyak yang dapat diisolasi > 80% dari penderita kandidiasis vagina. .
Kandida albikan dapat dijumpai
dikulit yang normal, vagina dan disaluran pencernaan. Ditempat ini ia hidup
sebagai saprofit tetapi pada keadaan tertentu dengan pemakaian antibiotika yang
cukup lama atau keadaan hormonal yang mengubah ekologi sekelilingnya, maka
kandida ini akan tumbuh dengan cepat dan berubah bentuk dengan membuat miselia
sehingga jamur ini menjadi pathogen
1.2. Rumusan
Masalah
1)
Apa Faktor dari Candidiasis ?
2)
Bagaimana
Patogenesis dari Candidiasis ?
3)
Bagaimana Gejala Klinis Candidiasis ?
4)
Bagaimana Diagnosis Candidiasis?
5)
Bagaimana Penanganan
Candidiasis?
1
1.3. Tujuan
1)
Mengetahui Faktor dari Candidiasis
2)
Mengetahui Patogenesis dari Candidiasis
3)
Mengetahui Gejala Klinis Candidiasis
4)
Mengetahui Diagnosis Candidiasis
5)
Mengetahui Penanganan
Candidiasis
2
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1.
Faktor Predisposisi
1.
Faktor Lokal
Mode pakaian ketat dan pakaian dalam yang
dibuat dari serat sintetis rnenyebabkan panas, kulit lembab, mengelupas dan
permukaan mukosa genital sangat rentan terhadap infeksi kandida. Efek ini
diperberat oleh kegemukan. Hal ini ditambah dengan serbuk pencuci yang gagal
membunuh jamur yang mengkontaminasi pakaian dalam. Kulit yang sensitif terhadap
spray vagina, deodoran dapat menimbulkan kerusakan integritas epitel vagina dan
merupakan predisposisi dan infeksi
Kandidiasis vaginitis dapat
ditularkan melalui hubungan seksual. Apabila persiapan hubungan seksual tidak
adekuat, vagina relatif kering merupakan predisposisi terjadinya trauma
mukokutaneus yang mempermudah terjadinya infeksi .
2.
Kehamilan
Koloni vagina rata-rata meningkat selama
kehamilan dan insiden keluhan vaginitis meningkat terutama pada trimester
terakhir. Pedersen pada tahun 1969 menemukan 42% kandidiasis vagina pada
kehamilan trimester terakhir dan menurun menjadi 11% pada hari ke tujuh setelah
melahirkan. Kandungan glikogen pada sel – sel vagina meningkat dengan tingginya
kadar hormon dalam sirkulasi. Ini mempertinggi proliferasi, pengembangbiakan
dan perlekatan dari kandida albikan. Pertumbuhan jamur akan distimulasi dengan
tingginya kadar hormon estrogen, karena hormon ini dapat menurunkan PH vagina
menjadi suasana yang lebih asam
3.
Imunosupresi
Pemberian obat dalam jangka waktu yang lama
terutama kortikosteroid sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan kandida
albikan, oleh karena obat ini bersifat imunosupresi.
4.
Diabetes Militus
Glukose yang tinggi pada urine dan peningkatan
konsentrasi sekresi vagina pada diabetes melitus mempertinggi pertumbuhan jamur
3
5.
Pengobatan Antibiotika
Penggunaan antibiotika dapat mengurangi
pertumbuhan bakteri yang sensitif tetapi tidak berpengaruh terhadap kandida.
Antibiotika dapat membunuh bakteri gram negatif yang memproduksi anti kandida
komponen, sehingga dapat merangsang pertumbuhan kandida.
6. Kontrasepsi Oral
Episode gejala dari kandidiasis vagina
biasanya lebih banyak pada wanita dengan pemakaian kontrasepsi oral daripada
wanita yang tidak. Dikatakan bahwa kontrasepsi oral menyebabkan
perubahan-perubahan pseudogestasional pada epitel vagina. Penelitian yang
dilakukan oleh Caterall dengan pil estrogen dosis tinggi rnendapatkan hasil
bahwa penderita kandidiasis vagina gagal diobati dengan bermacam-macam obat dan
segera sembuh setelah pemakaian kontrasepsi oral dihentikan. Tapi penelitian
lain tidak dapat menunjukan perbedaan frekuensi kandidiasis vagina dengan
pemakaian pil atau cara KB yang lain
2.2.
Patogenesis
Diperkirakan sekitar 20% dari wanita seksual
aktif mengandung strain kandida albikan didalam saluran pencernaan dan vagina.
Apakah kandida albikan dianggap sebagai bagian dari flora normal vagina yang
asimtomatik masih kontroversial. Beberapa penulis menganggap beberapa perubahan
lokal atau sistemik pada wanita dengan daya tahan tubuh yang lemah dapat
memudahkan timbulnya kandidiasis vagina (1,3).
Pada pasien dengan koloni kandida albikan,
sering dihubungkan dengan trauma vagina lokal yang kecil sebagai akibat dari
hubungan seksual, pemasangan tampon vagina atau perubahan bakteri yang
dihubungkan dengan pemakaian antibiotika. Tampaknya bahwa flora normal dapat
menghasilkan komponen anti kandida yang dapat menghambat pertumbuhan dan
perkembangbiakan jamur
Hipersensitifitas terhadap antigen kandida,
penting dievaluasi pada beberapa wanita dengan jamur yang sedikit, dapat
merupakan reaksi imunitas humoral yang mempunyai efek pada kandidiasis vagina.
Sekresi antibodi mukosa mengandung sistem kompleks yang terbanyak adalah
imunoglobulin A. Tingginya level Ig A pada sekresi vagina dapat mengurangi
perlekatan kandida pada sel epitel dan mengurangi insiden vaginitis
4
Imunitas seluler dihubungkan dengan gangguan
fungsi T sel, seperti pada keganasan hematologi atau infeksi dengan human
imunodefisiensi virus, sehingga dengan menurunnya fungsi T sel, dapat
menyebabkan insiden dan beratnya penyakit kandida makin meningkat
Kandidiasis vaginitis yang rekuren terdapat
beberapa faktor endogen dan eksogen seperti diabetis melitus yang tidak
terkontrol, penggunaan hormon estrogen, penggunaan antibiotika berspektrum luas
dan adanya penurunan daya tahan tubuh. Faktor lainnya seperti penggunaan
pakaian yang ketat dari bahan nilon dan tidak adanya ventilasi dibawah pakaian
memudahkan timbulnya infeksi karena peningkatan keringat dan peningkatan suhu
permukaan tubuh. Banyak wanita dengan kandidiasis vagina rekuren tidak
ditemukan faktor predisposisinya
Infeksi ulangan kandidiasis vaginitis dianggap
berasal dari saluran pencernaan oleh karena pada suatu penelitian organisme
kandida albikan diperoleh dan 100% kultur rektal pada wanita kandidiasis
vaginitis merupakan strain yang sama
Peran transmisi hubungan seksual yaitu
ditemukannya koloni kandida dikulit penis kira – kira 20% dari laki – laki
pasangan wanita dengan kandidiasis vagina yang rekuren. Pada sulkus koronarius
pada laki – laki yang tidak disirkumsisi. Kolonisasi asimtomatis pada penis
laki – laki 4 kali lebih sering pada laki – laki pasangan seksual dari wanita
yang terinfeksi. Strain yang ditemukan pada kedua pasangan seksual biasanya
identik
Ada bukti bahwa wanita dengan kandidiasis
vagina rekuren mempunyai kelainan antigen kandida spesifik dalam sel mediated
imuniti. Penelitian ini memberikan hipotesa bahwa adanya imunodefisiensi
didapat yang selektif pada wanita dengan kandidiasis vagina yang rekuren,
dengan rusaknya respon T limposit
2.3.
Gejala Klinis
Kandidiasis vaginitis dijumpai pada masa
seksual aktif dan dapat timbul pada kehamilan. diabetes militus, penggunaan
obat-obat imunosupresi dan antibiotika spektrum luas. Peradangan pada vagina
disertai gejala-gejala subyektif berupa gatal-gatal, nyeri dan rasa panas.
Vulva tampak bengkak, merah dan berfisura (5,10,11,12).
Pada pemeriksaan inspikulo mukosa vagina
tertutup pseudomembran yang berwarna putih seperti keju. Apabila pseudomembran
diangkat akan tampak bercak-bercak perdarahan.
5
Sekret
biasanya sedikit seperti air, tapi kadang-kadang banyak dan berwarna putih,
mengandung noda-noda seperti keju atau purulen. Labia mayora tampak bengkak dan
merah tertutup oleh lapisan putih. Lesi-lesi ini terasa amat sakit sehingga
menimbulkan dispareunia. Sedangkan sakit saat kencing disebabkan oleh karena
urine melewati vagina yang meradang
2.4
Diagnosis
Diagnosis kandidiasis vagina ditegakan
berdasarkan gejala-gejala klinis yang khas dan pemeriksaan laboratorium yaitu
pemeriksaan mikologi.
2.5.
Penanganan
1.
Penanganan Kandidiasis Vaginitis Akut.
Pengobatan kandidiasis bersifat pengobatan
topikal. Pengobatan topikal adalah aplikasi obat pada selaput lendir yang
terkena dalam jangka waktu cukup lama untuk mengeleminasi jamur penyebabnya.
Disamping pengobatan topikal perlu dicegah autoinfeksi dari saluran pencernaan,
reinfeksi dari partner seksual, serta pengobatan faktor predisposisi. Faktor
kebersihan penderita seperti menghindarkan pemakaian pakaian dalam dari bahan
sintetik dapat mempengaruhi keberhasilan pengobatan
Beberapa Jenis obat topikal dapat digunakan
untuk pengobatan kandidiasis vaginitis. Nistatin adalah suatu anti jamur
golongan polien yang telah diisolasi dan streptomyces naursei pada tahun 1949
dan bersifat fungisidal, adalah obat pertama . Nistatin diberikan dalam bentuk
tablet vagina atau pesarium dengan cara dimasukan sedalam – dalamnya kedalam
vagina 2 kali 100.000 iu sehari selama 7 – 14 hari. Apabila ada infestasi
kandida albikan disaluran pencernaan dapat diberikan nistatin tablet (500.000
iu) dengan dosis 4 kali 500.000 iu sehari selama 2 minggu untuk mencegah
autoinfeksi
Mikonazole mempunyai cara kerja dengan mengadakan
desintegrasi jamur. Dosis yang dianjurkan tergantung dari sediaan yaitu :
· 2%
krim 5 gram intravagina selama 7 hari.
· 200
mg supositoria vagina diberikan selama 3 hari.
· 100
mg supositoria vagina diberikan selama 7 hari.
Pengobatan lokal ini memberikan hasil yang memuaskan
tanpa efek samping
6
Klotrimazole bersifat fungistatik. cara kerjanya
berdasarkan kemampuannya untuk menghalangi terbentuknya asam amino esensial
jamur. Dosis yang dianjurkan :
· 1%
kream 5 gr intra vagina selama 7-14 hari.
· 100
mg tablet vagina diberikan selama 7 hari.
· 100
mg tablet vagina diberikan 2 kali selama 3 hari.
· 500
mg tablet vagina dosis tunggal.
Pengobatan kandidiasis vaginitis dengan
klotrinazole topikal berhasil dengan baik tanpa efek samping. Pengobatan
sistemik secara oral dengan dosis terapi menimbulkan berbagai efek samping yang
mengganggu yaitu rasa nyeri di epigastrium, kejang otot perut, mual, muntah dan
diare
Ekonazole suatu derivat imidazole yang
mempunyai struktur mirip dengan mikonazole. Dosis yang diberikan adalah satu
supositoria vagina 150 mg ekonazole diberikan selama 3 hari.
Ketokenazole merupakan golongan imidazol
dengan kasiat anti jamur spektrum luas. Ketokenazole diberikan peroral dengan
dosis 2 kali 200 mg selama 5 hari. Lama pengobatan tergantung gejala klinis dan
pemeriksaan laboratorium. Efek samping obat ini ringan hanya berupa gangguan
gastrointestinal ringan dan pruritus
Flukonazole merupakan anti jamur oral yang
bekerja melawan kandida albikan. Obat ini diserap dengan baik pada pemberian
peroral. Dosis flukonazole diberikan dengan dosis tunggal 150 mg
2.
Kandidiasis Vaginitis Yang Rekuren.
Ada 2 teori yang biasanya dikemukakan dalam
berbagai literatur tentang sumber dari organisme penyebab pada infeksi yang
rekuren. Teori reinfeksi mengatakan bahwa organisme penyebab menginfeksi
kembali kedalam vagina. Sumber dari infeksi adalah dari saluran pencernaan atau
dari hubungan kelamin. Sedangkan menurut teori relaps mengatakan bahwa terjadi
kegagalan dalam mengeradifikasi kandida dari vagina terjadi kegagalan terapi.
Adanya kandida persisten dalam lumen vagina yang sulit dideteksi dengan swab vagina,
kemudian infeksi muncul kembali dalam beberapa minggu atau bulan setelah
pengobatan dihentikan
7
Pengobatan kandidiasis vagina yang rekuren adalah
sebagai berikut:
· Ketokenazole
400 mg tiap hari selama 14 hari dilanjutkan 100 mg setiap hari selama 6 bulan
efektif untuk mengurangi kekambuhan menjadi hanya 5%
· Clotrimazole
500 mg vagina supositoria diberikan tiap minggu selama 6 bulan hanya sedikit
lebih efektif dibandingkan dengan plasebo .
· Flukonazole
150 mg diberikan dosis tunggal setiap bulan 1 – 4 hari sesuda-h—menstruasi
selama 12 bulan. Selama phase pencegahan dengan 6% pasien mengalami kandidiasis
vagina yang rekuren, sedangkan yang diberikan plasebo mengalami rekuren 18%
· Pengobatan
pada suaminya dilakukan bila didapatkan balanopostitis.
Pengobatan
ini memakai krim nistatin sekali sehari selama 2 minggu.
3.
Penanganan Kandidiasis Vaginitis Pada Wanita Hamil.
Sejak adanya bencana thalidomid pada awal
tahun 1960, pemberian obat pada wanita hamil banyak mendapat perhatian.
Penelitian yang dilakukan oleh WHO mendapatkan 80% wanita hamil pernah
mendapatkan pengobatan. Pasien senna menggunakan obat sebelum mengetahui
kehamilan mereka. pengobatan paaa wanita hamil perlu dipikirkan mengenai efek
sampmg pada fetus
Pengobatan
kandidiasis pada wanita hamil adalah sebagai berikut.
· Nistatin
tablet vagina dibenkan dua kali 100.000 iu sehari selama 7-14 hari cukup aman
pada wanita hamil. Penelitian yang dilakukan oleh Rosa FW.Baun C. tahun 1987
pada 230 wanita hamil menyatakan nistatin aman digunakan pada wanita hamil .
· Mikonazol
bila digunakan pada wanita hamil sesuai dosis terapi dikatakan tidak
berhubungan dengan peningkatan kelainan kongenital .
· Penggunaan
klotrimazol 500 mg tablet vagina dosis tunggal pada wanita hamil cukup aman
· Pengunaan
flukonazol pada wanita hamil tidak dianjurkan. Tapi tidak dapat disangkal bahwa
beberapa wanita hamil telah mendapat pengobatan flukonazol. Rubin dkk melakukan
penelitian 240 wanita hamil yang telah mendapat pongobatan flukonazol 150 mg
dosis tunggal menemukan angka abortus kurang dari 10% dan angka kelainan
kongenital 2,5%. Angka ini tidak berbeda jaun aengan angka yang didapatkan pada
populasi umum
8
BAB
III
PENUTUP
3.1.
KESIMPULAN
Kandidiasis vaginitis merupakan
satu dari penyakit jamur terbanyak setelah vaginitis bakterial. Diperkirakan
75% wanita didunia ini pernah mendrita kandidiasis vagina selama hidupnya
minimal sekali. Kandidiasis vagina disebabkan oleh kandida albikan.
Faktor predisposisi dari kandidiasis vaginitis
adalah kehamilan, imunosupresi, gangguan metabolik, pengobatan antibiotika dan
kontrasepsi oral.
Kandidiasis vaginitis mempunyai gejala utama
adalah gatal pada vagina, vulva seperti terbakar, disuri, dispareunia, adanya
cairan vagina yang kental seperti keju.
Untuk menegakan diagnosis kandidiasis
vaginitis perlu dilakukan pemeriksaan mikioskopis untuk mencari adanya kandida
albikan.
penanganan kandidiasis vaginitis yang penting
adalah mengoreksi faktor lokal dan sistemik untuk mencegah rekurensi penyakit.
Beberapa obat anti jamur sangat efektif untuk mengurangi gejala kandidiasis,
tapi bila tidak diikuti dengan koreksi terhadap faktor predisposisi maka sering
terjadi rekurensi.
3.2.
SARAN
1. Bagi
pasien
Untuk
mencapi keberhasilan dalam asuhan penanganan candidiasis dengan keluhan maka
diperlukan kerjasama yang baik dengan ibu untuk memecahkan masalah-masalah yang
timbul.
2. Bagi
petugas
Untuk
meningkatkan kemampuan dan keterampilan dengan meningkatkan peran bidan dalam
tugasnya sebagai pelaksana pelayanan pada candidiasis dengan keluhan .
9